“Paman, tolong aku! Tolong aku, Paman!” Suara Xerxes selalu mengiang di telinga Kashva setiap terbangun dari tidurnya. Anak dari perempuan pujaan yang dititipkan kepadanya ketika terjadi penyerangan oleh pasukan Raja Khosrou itu, kini terpisah darinya. Minggu demi minggu dilalui Kashva di Tibet dengan mendaki 13 gunung suci bersama Biksu Tashidelek. Ia pun tenggelam dalam lautan peziarah…
“Kalau mau sampai posisi atas, macam CEO gitu, berapa lama gue mesti kerja? Dan kalau mau jadi entrepreneur dari man ague harus mulai? Di zaman yang kian terinterkoneksi ini, jalur karier tak lagi harus melewati cara konvensional yang perlu waktu bertahun-tahun untuk meraih jabatan puncak atau malah menjadi owner usaha. Ada banyak entrepreneur, CEO, dan pebisnis sukses yang berhasil meleji…
Ketika kata “filsafat” disebut, terbayanglah permainan kata-kata sulit nan ruwet—kadang-kadang absurd dan mengada-ada—hanya untuk berbicara tentang soal-soal yang tidak jelas kegunaannya. Paling bagus, orang akan menganggapnya sebagai “ilmu tinggi” yang hanya dipahami oleh segelintir orang yang memiliki selera agak aneh. Kenyataannya, filsafat adalah ibu kandung perkembangan paradig…
Bagaimana kita melihat, merasakan, dan memaknai setiap kejadian pertama dalam hidup rupanya berkontribusi besar terhadap pembentukan kepribadian, juga cara pandang kita pada diri sendiri dan dunia saat ini. Kejadian pertama adalah serangkaian pengalaman yang membedakan manusia satu dengan lainnya yang menjadikan kita unik dan tiada dua. Kejadian pertama bagaikan kompas yang sepatutnya kita g…
“Buku ini saya beri nama Dari Penjara Ke Penjara. Memang saya rasa ada hubungan antara penjara dengan kemerdekaan sejati. Barang siapa yang menghendaki kemerdekaan buat umum, maka ia harus sedia dan ikhlas untuk menderita kehilangan kemerdekaan diri-(nya) sendiri.” Tan Malaka menulis buku Dari Penjara Ke Penjara dalam dua jilid terpisah. Jilid pertama menuturkan tentang pergulatannya di …
Dulu Tan Malaka sangat merisaukan makin menciutnya wilaya Republik dengan berdirinya boneka bentukan Belanda. Sementara kaum kapitalis, kolonialis, dan imperialis berhasil mengacaukan perekonomian dan keuangan Republik Indonesia. Karena itu, Tan Malaka tidak mengenal kompromi dengan kekuatan kolonialisme dan imperialisme. Ia tidak menyetujui perundingan dengan lawan. Ia menganggap berunding ada…
Dalam Pandangan Hidup, Tana Malaka menyuguhkan sebuah refleksi mendalam tentang prinsip, arah, dan tujuan hidup manusia—khususnya manusia Indonesia yang sedang merintis jalan kemerdekaannya. Tan Malaka menulis buku ini bukan sebagai seorang filsuf akademik yang berjarak dari realitas, melainkan sebagai pejuang yang berada langsung di jantung pergolakan zaman. Ia menawarkan pandangan hidup yan…
Seratus tahun silam di tanah pengasingan, Tan Malaka menulis karya kecil yang memuat ide besar Indonesia Merdeka. Dalam Naar de Republiek Indonesia, ia menuliskan gagasan-gagasan besar yang melampaui zaman. Di saat banyak tokoh pergerakan masih mencari jalan menuju kemerdekaan, Tan Malaka melangkah lebih jauh: merancang secara detail bentuk negara Indonesia Merdeka dan menyusun program konkret …